Tim-tim Afrika di Piala Dunia 2026 tampil baik. DR Kongo bermain imbang 1-1 dengan Portugal pada hari Rabu 17 Juni untuk mengawali kampanye mereka dengan baik.
Sebelumnya, Tanjung Verde menahan imbang juara Eropa Spanyol tanpa gol pada pertandingan pembuka turnamen tersebut. Mesir kemudian bermain imbang 1-1 dengan Belgia untuk menandai kesuksesan lain tim Afrika di Piala Dunia 2026.
Tim Afrika di Piala Dunia 2026 didukung oleh pertahanan yang baik
Tim Afrika di Piala Dunia 2026 diperkuat oleh pertahanan mereka yang kuat. DR Kongo berhasil menunjukkan hal ini melawan serangan dan lini tengah Portugal yang kuat, dengan memainkan pertahanan lima orang.
Portugal kesulitan mencatatkan tembakan ke gawang setelah mencetak gol pertamanya pada menit keenam. Pertahanan DR Kongo kesulitan menghadapi umpan silang yang dikirim oleh Pedro Neto dan Joao Cancelo masing-masing dari sayap kiri dan kanan, namun berhasil bersatu dan sebagian besar mampu menahan pemain Portugal itu.
Francisco Conceição muncul di babak kedua dan berulang kali merepotkan pertahanan Kongo di sisi kanan dalam. Namun Kongo mampu memberinya perhatian ekstra dan dengan demikian meniadakan ancaman tersebut.
Hal yang sama terjadi dalam pertandingan antara Spanyol dan Tanjung Verde, dengan Spanyol pertama-tama tampil baik dengan Marc Cucurella yang melakukan overlap dan kemudian menjaga bek tengah mereka di tempatnya untuk menegosiasikan umpan silang yang dikirim ke area penalti oleh pemain Spanyol.
Pertandingan di Cape Verde atau Kongo tidak berjalan dengan baik, meskipun Kongo juga menunjukkan niat menyerang, bermain dalam formasi 5-3-2 dan Yoane Visa sangat merepotkan bek tengah asal Portugal itu.
Mesir, sebagai perbandingan, jauh lebih agresif dan menghadapi Belgia di pertandingan mereka. Namun, pertahanan Mesir mahir menangani pemain seperti Kevin de Bruyne, Romelu Lukaku, dan Jeremy Doku.
Hasil imbang Maroko dengan Brasil: Sepak bola menyerang
Di antara tim-tim Afrika di Piala Dunia FIFA 2026, Maroko menunjukkan banyak bakat menyerang saat bermain imbang 1-1 dengan Brasil. Faktanya, tim Maroko mendominasi 25-30 menit pertama pertandingan dan mencetak gol bunuh diri.
Ada beberapa pemain menonjol untuk tim Afrika Piala Dunia 2026 juga.
Kiper Tanjung Verde Vozinha menjadi sensasi dengan menghentikan sejumlah serangan Spanyol, sementara Aaron Wan-Bissaka, mantan bek kanan Manchester United asal DR Kongo, bertarung apik dengan Pedro Neto.
Lalu ada pertarungan antara Achraf Hakimi dan Vinicius Junior yang merupakan salah satu pertarungan satu lawan satu terbaik yang pernah ada di turnamen sejauh ini.
Beberapa tim Afrika harus mencapai babak 16 besar
Afrika Selatan, Tunisia dan Aljazair memulai kampanye Piala Dunia mereka dengan buruk, masing-masing kalah dalam pertandingan pembukaan mereka. Namun, mereka masih menyimpan ambisi untuk membalikkan keadaan di dua pertandingan grup berikutnya.
Sejauh ini, tim-tim Afrika di Piala Dunia FIFA 2026 memiliki rekor yang beragam. Namun, pertahanan mereka paling menonjol dan menjadi sumber kesulitan bagi beberapa pemukul berat.
Sekarang masih harus dilihat bagaimana turnamen akan berkembang untuk tim-tim ini.
Piala Dunia 2026
Kalau biasanya Piala Dunia itu sudah terasa besar, edisi 2026 bakal terasa seperti “festival sepak bola global” versi maksimal. Untuk pertama kalinya, turnamen ini digelar bareng oleh tiga negara sekaligus—Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko—yang artinya vibes-nya bakal campur aduk antara budaya, stadion, dan gaya dukungan fans yang beda-beda. Bukan cuma soal lokasi, formatnya juga naik level: dari 32 jadi 48 tim. Kebayang nggak, lebih banyak negara ikut, lebih banyak cerita underdog, dan peluang kejutan makin gede. Bisa jadi tim-tim yang biasanya cuma numpang lewat, kali ini malah bikin sejarah. Di sisi lain, jadwal yang makin panjang bikin turnamen ini terasa seperti maraton emosi—dari fase grup yang padat sampai knockout yang makin brutal. Dan karena ini Piala Dunia FIFA 2026, ekspektasinya jelas: gol dramatis, momen ikonik, dan pemain-pemain muda yang tiba-tiba jadi bintang dunia dalam semalam. Intinya, 2026 bukan cuma tentang siapa yang angkat trofi, tapi tentang pengalaman global yang lebih luas—lebih ramai, lebih chaotic, tapi justru itu yang bikin seru.