Kisah tim yang tidak diunggulkan di Piala Dunia telah menjadi salah satu tema penentu turnamen tahun 2026, dengan negara-negara kecil berulang kali diadu melawan kekuatan sepak bola yang sudah mapan.
Dari tendangan penalti yang dramatis hingga penampilan defensif yang disiplin, Piala Dunia 2026 membuktikan bahwa reputasi tidak terlalu berarti setelah bel berbunyi. Munculnya tim underdog di Piala Dunia membentuk keseluruhan kompetisi.
Hanya sedikit orang yang menduga akan terjadi gangguan sebesar ini pada tahap turnamen ini. Namun pertandingan seperti Jerman v Paraguay dan Belanda v Maroko telah menyoroti betapa rapuhnya jurang pemisah antara tim-tim elit dan negara-negara berkembang.
Tim yang tidak diunggulkan di Piala Dunia mengubah ekspektasi mereka sejak dini
Babak penyisihan grup dan eliminasi awal Piala Dunia 2026 membuahkan hasil yang tidak diperkirakan banyak orang.
Tanjung Verde dan DR Kongo secara luas disebut-sebut sebagai kisah terobosan yang menunjukkan bahwa disiplin taktis dan keyakinan dapat mengatasi kedalaman skuad dan peringkat global.
Dalam kasus Jerman vs Paraguay, laga babak 16 besar menjadi salah satu contoh paling jelas bagaimana tim underdog mampu mengendalikan momen menegangkan.
Jerman diharapkan melaju dengan nyaman, namun struktur, kesabaran, dan ketabahan mental Paraguay membuat mereka tetap bertahan dalam perlombaan dari awal hingga akhir.
Saat pertandingan memasuki babak adu penalti, ketegangan berubah sepenuhnya. Pada akhirnya, Jerman vs Paraguay menjadi momen penentu bagaimana narasi underdog Piala Dunia terus berkembang di turnamen 2026.
Bagi Paraguay, kemenangan atas Jerman mungkin akan menjadi titik balik dalam sejarah sepakbola mereka.
Bagi Jerman, hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai manajemen permainan dalam situasi sistem gugur yang bertekanan tinggi, terutama di turnamen di mana tim yang tidak diunggulkan di Piala Dunia berkembang pesat.
LEBIH BANYAK UNTUK ANDA: Jerman tersingkir dari Piala Dunia 2026: Ada apa di balik bencana Piala Dunia lainnya dan ke mana arah juara empat kali itu setelahnya?
Belanda vs Maroko kembali menambah kejutan di Piala Dunia 2026
Jika Jerman vs Paraguay menjadi penentu, Belanda vs Maroko mengonfirmasinya. Maroko sekali lagi menunjukkan mengapa mereka menjadi salah satu tim underdog yang paling dihormati di Piala Dunia sepak bola internasional.
Belanda memasuki pertandingan dengan harapan akan kendali dan kemajuan. Namun, organisasi pertahanan Maroko dan transisi yang cepat menciptakan ketidakpastian yang terus-menerus.
Seperti kemenangan Paraguay, pertandingan melawan Maroko berlangsung lebih dari 90 menit, di mana ketegangan dan mentalitas menjadi penentu.
Dalam adu penalti Belanda melawan Maroko, negara Afrika Utara itu tampil tenang dengan ketenangan yang mengesankan.
Kemenangan ini mengokohkan reputasi mereka sebagai tim yang mampu menangani lawan elite yang berada di bawah tekanan. Dia juga menambahkan sorotan lain pada daftar tim underdog Piala Dunia yang semakin mendefinisikan ulang turnamen ini.
Underdog Piala Dunia membentuk identitas Piala Dunia 2026
Menjelang Piala Dunia 2026, pola ini semakin sulit untuk diabaikan. Tim-tim yang dulunya dianggap underdog kini terus-menerus menekan tim favorit hingga batasnya.
Kemunculan Cape Verde, ketangguhan DR Kongo, dan kekuatan KO Maroko yang terus berlanjut menunjukkan sebuah turnamen yang marginnya lebih ketat dari sebelumnya.
Kesuksesan tim underdog di Piala Dunia yang berulang kali juga mengubah cara tim yang lebih kuat mendekati pertandingan. Ada lebih sedikit ruang untuk rotasi, lebih sedikit ruang untuk kesalahan dan meningkatnya kebutuhan akan fleksibilitas taktis.
Setiap pertandingan – mulai dari babak penyisihan grup hingga babak sistem gugur – memiliki risiko menjadi skenario lain di mana tim yang tidak diunggulkan mengalahkan raksasa internasional.
ANDA MUNGKIN JUGA SUKA: Sam Kerr Gotham: Legenda Chelsea menyelesaikan kepindahan permanennya ke klub NWSL Gotham FC

Orang luar yang harus diperhatikan
Saat Piala Dunia 2026 semakin memasuki babak sistem gugur, perhatian akan terus tertuju pada apakah tim yang tidak diunggulkan dapat mempertahankan momentum mereka.
Sejarah menunjukkan bahwa kejutan seringkali menjadi lebih sulit untuk dipertahankan seiring dengan meningkatnya kelelahan dan ketegangan, namun turnamen ini telah menghancurkan beberapa ekspektasi.
Laga lain yang patut disaksikan dari babak 32 besar antara lain Pantai Gading v Norwegia, Inggris v DR Kongo, Belgia v Senegal, dan Argentina v Tanjung Verde.
Piala Dunia 2026
Kalau biasanya Piala Dunia itu sudah terasa besar, edisi 2026 bakal terasa seperti “festival sepak bola global” versi maksimal. Untuk pertama kalinya, turnamen ini digelar bareng oleh tiga negara sekaligus—Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko—yang artinya vibes-nya bakal campur aduk antara budaya, stadion, dan gaya dukungan fans yang beda-beda. Bukan cuma soal lokasi, formatnya juga naik level: dari 32 jadi 48 tim. Kebayang nggak, lebih banyak negara ikut, lebih banyak cerita underdog, dan peluang kejutan makin gede. Bisa jadi tim-tim yang biasanya cuma numpang lewat, kali ini malah bikin sejarah. Di sisi lain, jadwal yang makin panjang bikin turnamen ini terasa seperti maraton emosi—dari fase grup yang padat sampai knockout yang makin brutal. Dan karena ini Piala Dunia FIFA 2026, ekspektasinya jelas: gol dramatis, momen ikonik, dan pemain-pemain muda yang tiba-tiba jadi bintang dunia dalam semalam. Intinya, 2026 bukan cuma tentang siapa yang angkat trofi, tapi tentang pengalaman global yang lebih luas—lebih ramai, lebih chaotic, tapi justru itu yang bikin seru.